Halaman Ini berisi tentang Informasi2 tentang Astronomi terkait kejadian alam yang berada di luar angkasa maupun kejadian di bumi. Sehingga membantu masyarakat mengetahui dengan jelas kapan terjadinya suatu peristiwa, sehingga dapat menikamti fenomena2 langka yang terjadi dilangit maupun di bumi.

Minggu, 05 Juni 2016

Jadwal Gerhana Tahun 2017


Fenomena Gerhana merupakan fenomena astronomis yang paling banyak diminati oleh masyarakat seluruh dunia, karena keindahannya baik gerhana bulan/gerhana matahari. Bahkan banyak para pemburu gerhana matahari khususnya mengejar gerhana setiap tahunnya diberbagai belahan dunia yang dilintasinya agar tidak kelewatan untuk menyaksikan fenomena yang indah ini. Dinamisnya pergerakan objek langit membuat fenomena gerhana ini bisa dipredisiki jauh-jauh hari sebelum peristiwa itu terjadi. Berikut kami tampilkan jadwal gerhana baik Matahari/Bulan ditahun 2017, simak ulasannya :


  • 10-11 Februari 2017, Gerhana Bulan Panumbra
Gerhana Bulan Panumbra terjadi apabila Bulan melintasi bayang-bayang bumi bagian samar (Panumbra), gerhana jenis merupakan gerhana tak kasat mata karena sulit dibedakan dengan Bulan Purnama biasa. Disimpulkan gerhana bulan jenis ini kurang diminati oleh masyarakat karena sulit teramati secara kasat mata, namun perbedaannya yaitu Bulan Purnama akan sedikit lebih redup saja.

Pada tanggal 11 Februari 2017 akan terjadi gerhana bulan panumbra fenomena ini akan teramati jelas prosesnya dari awal-akhir dinegara-negara Amerika Latin, Eropa, Afrika, Timur Tengah, dan Asia Barat. Untuk negara-negara Amerika Utara akan menyaksikan diproses akhir gerhana bulan panumbra, sedangkan wilayah Asia Selatan, dan sebagian Asia Tenggara bisa menyaksikan hanya diproses fase awal gerhana bulan panumbra sebelum Bulan tenggelam diarah barat, di Indonesia tempat terbaik menyaksikan gerhana bulan berada diujung bagian barat seperti pulau Sumatera.

  • 26 Februari 2017, Gerhana Matahari Cincin


Gerhana Matahari Cincin terjadi dimana ketika Matahari - Bulan - Bumi berada pada garis lurus sejajar namun saat Cincin Bulan berada pada jarak terjauhnya dengan bumi (apogee), akibatnya bayangan gelap bulan/umbra tidak sampai ke bumi hanya bayang terusannya aja (antumbra). Sehingga cakram bulan tidak menutupi keseluruhan penampang matahari hanya sebagiannya aja akibatnya Matahari akan terlihat seperti cincin api.

Untuk Gerhana Matahari Cincin yang terjadi 26 Februari 2017 nanti akan melintasi 2 Benua Amerika & Afrika namun hanya di negara tertentu saja yang akan dilintasi garis cincinnya antara lain di negara Chile, Argentina, Angola, Zambia, dan DR Kongo sedangkan gerhana matahari sebagian bisa disaksikan dibeberapa negara-negara lain seperti di Amerika Latin,  Afrika Tengah & Selatan. Puncak Gerhana Matahari Cincin ini sangat singkat sekali dimana pada fase puncaknya hanya sekitar 44 detik saja. Gerhana Matahari ini tidak bisa disaksikan dari Indonesia.

  • 7-8 Agustus 2017, Gerhana Bulan Sebagian (25%)
Gerhana Bulan Sebagian terjadi dimana dalam orbitnya Bulan masuk kedalam sebagian bayang-bayang gelap bumi (Umbra), sehingga jika diamati dari Bumi sebagian dari permukaan Bulan akan nampak gelap tak terlihat bulat utuh seperti purnama biasanya.

Pada 7-8 Agustus nanti gerhana bulan sebagian akan terjadi dengan intensitas 25% , Bulan saat gerhana akan masuk kedalam bayang-bayang inti bumi (umbra) sampai 25% saja tidak total. Dimana saat puncak gerhana bulan sebagian nanti kita akan melihat permukaan Bulan akan tertutupi bayangan bumi sampai 25%. Gerhana Bulan Sebagian ini akan teramati dibeberapa belahan dunia antara lain Afrika, Timur Tengah, Asia Barat, Asia Selatan, Asia Timur, Australia, dan Asia Tenggara termasuk Indonesia.

Untuk Indonesia sendiri akan menyaksikan gerhana bulan sebagian pada tanggal 8 Agustus 2017 lepas tengah malam berikut waktu terjadinya:

Indonesia Barat
    • Kontak Awal   : 00.22 WIB
    • Puncak (25%) : 01.20 WIB
    • Kontak Akhir : 02.18 WIB
Indonesia Tengah
    • Kontak Awal   : 01.22 WITA
    • Puncak (25%) : 02.20 WITA
    • Kontak Akhir : 03.18 WITA
Indonesia Timur 
    • Kontak Awal   : 02.22 WIT
    • Puncak (25%) : 03.20 WIT
    • Kontak Akhir : 04.18 WIT
  • 21 Agustus 2017, Gerhana Matahari Total
Gerhana Matahari Total terjadi apabila Matahari- Bulan - Bumi berada pada garis lurus dan Bulan berada pada jarak terdekatnya dengan Bumi (Perigee). Sehingga bayang-bayang umbra dari bulan sampai ke bumi dan mengahalangi sinar cahaya matahari untuk beberapa menit saja.

Gerhana Matahari Total 21 Agutus 2017 sangat eklusif karena melintasi satu negara saja yakni Amerika Serikat (USA), dimana lintasan Total gerhana matahari ini akan memotong dibagian tengah negara adidaya ini bahkan gerhana total 2017 ini dijuluki "The Greatest Eclipse". Jalur totalitas gerhana matahari akan melintasi negara bagian Amerika Serikat antara lain di Oregon, Idaho, Wyoming, Nebraska, Kansas, Misoouri, Iowa, Illionis, Kentucky, Teenese, Atlanta, dan South Carolina sedangkan gerhana matahari sebagian bisa disaksikan disebagian besar USA, Kanada, Mexico, Panama, dan Amerika Latin Utara. Puncak gerhana matahari total ini akan mencapai waktu sampai 2 menit 40 detik saja. Gerhana Matahari ini tidak terlihat di indonesia

Kesimpulan:

- Tahun 2017 akan terjadi 4 gerhana antara lain 2 gerhana matahari, 2 gerhana bulan

- Indonesia hanya bisa menyaksikan 1 gerhana saja tahun 2017 yakni Gerhana Bulan Sebagian pada tanggal 8 Agustus 2017.

- Gerhana Bulan Panumbra merupakan gerhana tak kasat mata karena sulit dibedakan dengan bulan purnama biasa.

- Gerhana Matahari Total 21 Agustus 2017 dijuluki "The Greatest Eclipse" dikarenakan negara Amerika Serikat merupakan negara satu-satunya saja yang dilalui jalur totalitas.

sumber: eclipsewise.com


Rabu, 01 Juni 2016

9 Temuan Penting Lapan Saat Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016


VIVA.co.id – Fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) yang melewati sebagian wilayah Indonesia pada 9 Maret 2016 sudah menyita euforia masyarakat. Begitu fenomena tersebut berakhir, maka secara berangsur euforia masyarakat mulai surut. Di saat masyarakat mulai melupakan GMT, maka tidak demikian dengan peneliti. Para ilmuwan merangkum dan menganalisa hasil pengamatan mereka.
Lebih dari dua bulan setelah munculnya fenomena langka tersebut, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) merilis hasil penelitian dan pengamatan GMT. Lapan mencatat ada sembilan hal temuan terkait penelitian GMT tersebut.

Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin mengatakan, hasil penelitian GMT oleh Lapan adalah salah satu riset yang dilakukan oleh peneliti di Indonesia. Menurutnya ada penelitian lain yang dilakukan tim di luar Lapan. Hasil dari berbagai peneliti dan institusi akan dipresentasikan dalam sebuah seminar internasional bertajuk International Symposium on Sun, Earth, and Life di Bandung.

"Hasilnya akan dipresentasikan di seminat di ITB pada 3-4 Juni 2016," ujar Thomas kepada
VIVA.co.id, Selasa 31 Mei 2016.

Berikut rangkuman hasil penelitian Lapan soal GMT 2016:

1. Perekaman video proses gerhana di Parigi, Sulawesi Tengah, menunjukkan ketepatan perhitungan kontak gerhana dengan proses sesungguhnya yang teramati.

2. Pengamatan kontinus setiap 1 menit (dan menjadi setiap 30 detik sekitar fase puncak gerhana) dari Lapan Bandung saat Gerhana Matahari sebagian dibandingkan dengan perhitungan data gerhana, yang menunjukkan kesesuaian.

3. Analisis pola korona GMT 2016 menunjukkan pola siklus matahari pra-minimum yang indeksnya dapat digunakan sebagai indikasi untuk memprakirakan siklus aktivitas matahari berikutnya.

4. Pola medan magnetik korona dari pengamatan di Ternate, Maluku, dibandingkan dengan model struktur korona yang menunjukkan pola yang sesuai. Dapat ditelusur pola medan magnet di korona dalam menyebabkan pola pita di korona luar.

5. Analisis spektroskopi GMT dari Maba, Maluku Utara terkendala cuaca. Namun proses penelitian memberikan pengalaman yang berharga dalam pengembangan metodenya,

6. Ketidakteraturan ionosfer diukur di Manado dekat jalur Gerhana Matahari Total. Perubahan radiasi matahari saat gerhana berdampak pada proses ionisasi di ionosfer.

7. Lapisan F2 ionsfer di atas Biak (dekat jalur GMT) menunjukkan penurunan kerapatan ionosfer saat gerhana.

8. Pengukuran variasi medan magnet bumi di Ternate (jalur GMT) menunjukkan adanya penurunan medan magnet bumi yang prosesnya dipengaruhi oleh penurunan arus listrik di lapisan E ionosfer.

9. Tutulemma yang merupakan pola angka 8 perubahan posisi matahari selama setahun, termasuk saat Gerhana Matahari, berhasil diperoleh dari Lapan Bandung. Polanya menunjukkan kekhasan Indonesia di daerah sekitar ekuator, sedikit berbeda dari pola yang diambil di negara-negara lain di lintang menengah atau tinggi.

© VIVA.co.id

Selasa, 31 Mei 2016

Gerhana Matahari Sebagian 1 September 2016 di Indonesia



9 Maret 2016 kemarin negara Indonesia dihebohkan dengan fenomena akbar Gerhana Matahari Total, dimana 3 pulau besar di Indonesia seperti Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi dilintasi garis totalnya. Menurut perhitungan astronomis ditahun 2016 ini ada 2 Gerhana Matahari yang akan terjadi, pertama 9 maret 2016 gerhana matahari total lalu yang melintasi wilayah Indonesia dan berikutnya tanggal 1 September 2016 akan terjadi gerhana matahari cincin namun lintasan cincin hanya menyapu negara-negara di benua Afrika bagian tengah saja seperti Negara Kongo, Rep. Demoratik Kongo, Gabon, Tanzania, Mozambiq, dan Madagascar.


Apa itu Gerhana Matahari Cincin?
Sama halnya dengan gerhana matahari total peristiwa ini terjadi akibatnya sejajarnya posisi Matahari-Bulan-Bumi namun yang membedakan dengan total adalah jaraknya dimana saat gerhana matahari cincin (GMC) posisi Bulan berada pada fase apogeenya dengan bumi dengan kata lain dalam posisi terjauhnya sehingga bayangan umbra dari bulan tidak sampai ke bumi hanya bayangan terusannya yang dikenal dengan antumbra, sehingga matahari akan tampak seperti cincin api.



Kenapa bisa Indonesia melihat fenomena gerhana matahari 1 September 2016 padahal lintasan cincin hanya melintas wilayah Afrika saja?

Memang untuk fase gerhana matahari cincin tidak akan terlihat di indonesia 1 September 2016 hanya gerhana matahari sebagian saja intensitasnya tak lebih dari 5%, kita harus bersabar menunggu gerhana matahari cincin 26 Desember 2019 nanti yang akan melintasi wilayah indonesia. Untuk 1 September 2016 nanti ternyata sebagian daerah Indonesia masuk diarea panumbra akhir gerhana matahari cincin ini, dimana pada cakupan area panumbra ini wilayah tersebut akan menyaksikan gerhana matahari sebagian. Namun hanya beberapa daerah saja di Indonesia yang bisa menyaksikan gerhana matahari sebagian seperti provinsi Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta selain di daerah yang saya sebutkan tadi gerhana matahari tidak terlihat.

Berikut kami tampilkan peta cakupan beberapa provinsi yang terdampak gerhana matahari sebagian 1 September 2016.

Provinsi yang terdampak GMS ada 7 antara lain:
(Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Yogyakarta)

Jadi hanya daerah tertentu saja di Indonesia yang bisa menyaksikan gerhana matahari sebagian dengan intensitas tak lebih dari 5%, walaupun intensitasnya kecil namun wilayah cakupan tersebut akan melihat gerhana matahari sebagian.

Kapan waktu terjadinya ?

Waktu terjadinya gerhana matahari sebagian yang terlihat di indonesia 1 september 2016 nanti adalah beberapa menit sebelum matahari tenggelam/sunset, jadi kalian harus melihat matahari sampai keseluruhannya tenggelam di ufuk barat sambil menikmati proses terjadinya gerhana matahari. Berhubung gerhana matahari 1 september 2016 terlihat di Indonesia menjelang sunset dimana pasti banyak awan-awan yang aka menghalangi sebelum matahari benar-benar terbenam dibarat jadi cukup sulit untuk bisa melihat gerhana matahari kali ini akan tetapi kalau kita beruntung masih bisa melihat keindahan gerhana matahari sampai benar-benar tenggelam. Pastikan juga pandangan arah barat kalian bebas halangan seperti gunung, pohon, rumah, atau bangunan lain yang menganggu dalam pengamatan gerhana matahari 1 september 2016 dan jangan lupa bawa kacamata gerhananya yaa. seperti inilah contoh simulasi gerhana matahari sebagian dikota Jakarta 1 September 2016 nanti. 

Simulasi GMS 1 September 2016 di Jakarta
(Aplikasi Stellarium)

Sabtu, 28 Mei 2016

Fenomena Astronomis Juni 2016



3 = Konjungsi Bulan - Merkurius bisa disaksikan mulai pukul 04.30 - 05.00 waktu setempat arah timur.

3 = Oposisi Saturnus
Saturnus menjadi planet terjauh yang masih mudah terlihat secara langsung. Terlebih jika sedang oposisi seperti hari ini. Saturnus akan terlihat sepanjang malam sebagai bintang putih terang di arah yang berseberangan dengan Matahari. Terang maksimum Saturnus mencapai magnitudo 0 atau masih jauh lebih redup dari Jupiter dan Mars. Sebenarnya ini sangat wajar karena jarak Saturnus pun sangat jauh dibanding Mars dan Jupiter. Dengan bantuan teleskop, Saturnus akan terlihat lebih cantik dengan cincin tebal yang melingkarinya.

5 = Ijtimak penentuan Awal Ramadhan 1 Ramadhan 1437 H

10 = Konjungsi Bulan Regulus bisa disaksikan mulai pukul 18.00 - 22.30 waktu setempat

11 = Konjungsi Bulan - Jupiter bisa disaksikan mulai pukul 18.00 - 23.30 waktu setempat

15 = Konjungsi Bulan - Spica bisa disaksikan mulai pukul 18.00 - 02.00 waktu setempat.

18 = Konjungsi Bulan - Mars bisa disaksikan mulai pukul 18.00 - 03.30 waktu setempat.

19 = Konjungsi Bulan - Saturnus bisa disaksikan mulai pukul 18.00 - 04.30 waktu setempat.

20 = Fase Bulan Purnama 

20 = Summer Equinox
Titik balik musim panas bagi masyarakat di Belahan Bumi Utara dan titik balik musim dingin bagi penduduk di Bumi Belahan Selatan. Selain itu, bagi penduduk di belahan selatan, ini merupakan malam terpanjang dan bagi mereka yang berada di utara, ini adalah siang terpanjang. Di Indonesia perubahan ini tidak terlalu berasa namun jika kalian amati Matahari dibulan-bulan ini agak condong kearah Utara.
PENMPAKAN PLANET - PLANET:
- MERKURIUS, pukul 04.30 - 05.00 arah timur mag.semu (0,9)
- MARS, pukul 18.00 - 03.30 arah timur-barat mag.semu (-1,5)
- JUPITER, pukul 18.00 - 23.30 arah barat mag.semu (-1,5)
- SATURNUS, pukul 18.00 - 05.00 arah timur-barat mag.semu (0,2)
Ket:
Semakin kecil bilai magnitudo semu maka semakin terang penampakan planet.

Kamis, 26 Mei 2016

"Istiwa' Adhom" Cek Arah Kiblat Setiap Tanggal 28 Mei / 16 Juli


Jika kita amati sepanjang tahun, maka kita akan mendapati gerak semu tahunan matahari. Dikatakan gerakan semu tahunan matahari karena matahari "Seakan-akan" bergerak dari katulistiwa, ke utara hingga deklinasi 23,5°, ke katulistiwa, ke selatan hingga deklinasi -23,5° dan kembali ke posisi awal selama waktu setahun.
Akibat gerakan ini pula matahari akan tepat berada diatas suatu daerah tertentu pada waktu tertentu. Salah satunya adalah ka’bah yang akan disinggahi matahari sebanyak 2 kali setiap tahunnya, yaitu pada tanggal 28 Mei dan 16 Juli. Peristiwa dimana matahari berada tepat diatas Ka’bah ini dinamakan Istiwa A’dhom.
Nah, karena matahari berada tepat di atas ka’bah maka semua bayangan benda tegak tentu saja akan mengarah pada Ka’bah. Jadi, kita dapat memanfaatkan peristiwa ini untuk mengoreksi arah kiblat pada masjid, mushola, surau bahkan rumah kita sendiri.
Istiwa a’dhom sendiri terjadi pada tanggal 28 Mei pukul 12.18 waktu Arab atau 16.18 WIB dan 17.18 WITA.
Kejadian yang sama juga akan terulang pada 16 Juli pukul 12.27 waktu Arab atau 16.27 WIB.
Sekarang, bagaimana cara kita mengoreksinya?
1.) Sediakan tongkat lurus dengan panjang ± 1 meter atau benang panjang berbandul.
2.) Jangan lupa cocokkan waktu di daerah kita dengan tepat sesuai WIB/WITA.
3.) Tentukan juga lokasi pengukuran, didalam atau diluar ruangan, yang penting tempat tersebut datar dan masih mendapat sinar matahari saat peristiwa istiwa a’dhom berlangsung.
4.) Pasang tongkat dengan tegak atau pasang benang yang sudah diberi bandul serta penyangganya di lokasi tersebut.
5.) Jika telah saatnya istiwa a’dhom berlangsung, maka amatilah bayangan matahari yg terjadi dan tariklah garis berlawanan dari bayangan menuju arah matahari itulah arah kiblat yang tepat. Bayangan tongkat atau benang tersebut akan menunjukkan arah kiblat dan tandai pula bayangan tongkat tersebut.
6.) Agar bisa menggunakannya di tempat lain, dapat pula kita melukiskan bayangan tersebut di ats kertas, lalu kita cocokkan arah mata anginnya dengan kompas.
7.) Sekarang kita bisa mendapatkan arah kiblat yg cocok dan inshaa Allah benar.
Dan jika pada hari istiwa a’dhom tersebut di daerah kita awan menutupi matahari atau mendung, maka kita masih bisa melakukan metode ini tetapi dalam batas 2 hari sebelum dan sesudah hari istiwa a’dhom tersebut. Dengan catatan, hari sebelumnya dikurangi 3 menit per hari, sesudahnya ditambah 3 menit per hari (berlaku kebalikan untuk tanggal 16 juli).
Nah, Selamat mencoba 

Sabtu, 21 Mei 2016

Foto-Foto Konjungsi Bulan - Mars 21 Mei 2016

Credit: 
INFO ASTRONOMI

credit : Alin Angelina (Tangerang)

credit: Rafi Miftah Falah

credit: Susana (Balikpapan)

credit: Chikodi Abimbola

credit: Ulfa Dewi (Penajam Paser, Kaltim)

credit: Nona Al


credit: Alin Angelina

credit: Aji Saputra

credit:Taufiq Muhammad








Sabtu, 30 April 2016

Fenomena Astronomis Bulan Mei 2016


Selamat Datang Bulan Mei,
Dimana pada bulan Mei 2016 ini akan terjadi banyak peristiwa astronomis yang menarik seperti Oposisi Mars, Transit Merkurius, dsb. Kapan saja peristiwa itu terjadi berikut ulasannya:

TANGGAL :

6 - 7 = Puncak Hujan Meteor Eta-Aquarids
Hujan meteor Eta Aquarids berlangsung antara 19 April-28 Mei 2016. Pada puncaknya Sabtu dini hari diperkirakan akan terlihat hingga 60 meteor per jam. Rasi Aquarius di langit timur setelah tengah malam akan menjadi arah melesatnya meteor-meteor Eta Aquarids. Beruntung saat puncak Eta Aquarids bertepatan dengan fase bulan baru sehingga cahaya bulan tidak akan menggangu pengamatan. 

7 = Fase Bulan Baru / New Moon

8 = Konjungsi Bulan - Aldebaran disaksikan mulai pukul 18.00 - 19.00 waktu setempat arah barat langit.

9 = Transit Planet Merkurius
Transit Merkurius terjadi ketika Matahari-Merkurius-Bumi tepat segaris lurus. Karena itu saat transit nanti Merkurius akan terlihat melintas di depan piringan matahari. Melihat suatu planet kecil di depan piringan matahari tentu akan menjadi suatu fenomena langka juga menarik. Terakhir kali transit Merkurius adalah pada 8 November 2006 dan baru akan terulang lagi pada 11 November 2019.

Sayangnya tidak semua daerah di Indonesia bisa menyaksikan Transit Merkurius ini dikarenakan terjadinya peristiwa tersebut sebagian besar wilayah Indonesia sudah malam. Terkecuali di Provinsi Aceh & Sumatera Utara saja yang bisa menyaksikan difase kontak awal menjelang matahari terbenam diarah barat, penampakan merkurius akan terlihat seperti titik kecil di permukaan Matahari bagian atas.

15 = Konjungsi Bulan - Jupiter disaksikan mulai pukul 18.00 - 01.00 waktu setempat

18 = Konjungsi Bulan - Spica disaksikan mulai pukul 18.00 - 03.00 waktu setempat.

21 = Fase Bulan Purnama / Full Moon

21 = Konjungsi Bulan - Mars disaksikan mulai pukul 18.00 - 05.00 waktu setempat

22 = Oposisi Planet Mars
Sama seperti Jupiter di awal Maret, hari ini Mars juga akan mengalami oposisi. Itu berarti Mars akan terlihat sepanjang malam di arah yang berlawanan dengan Matahari. Mars pun akan mencapai terang maksimumnya hari ini dengan magnitudo -2,0 atau hampir mendekati terang Jupiter saat oposisi. Harus diketahui bahwa saat oposisi nanti Mars hanya akan terlihat sebagai bintang merah terang. Mars tidak akan pernah sekalipun terlihat sebesar bulan purnama. Fenomena ini merupakan periodik setiap 2,2 tahun sekali dan baru terulang kembali tahun 2018.

28 = Istiwa' Adhom
Pada hari ini pukul 16:18 WIB, atau 17.18 WITA Matahari akan tepat berada di atas Ka'bah, kiblat umat muslim. Jadi dengan menghadap Matahari ataupun mengikuti arah pangkal bayangan benda tegak pada saat itu akan sama artinya mengarah tepat ke arah kiblat. Peristiwa ini tentu akan memudahkan bagi umat muslim untuk mengoreksi arah kiblatnya supaya benar-benar tepat mengarah ke kiblat. Karena tepat menghadap kiblat adalah bagian dari kesempurnaan beribadah khususnya sholat. Peristiwa ini akan kembali terulang pada 16 Juli 2016.

PLANET - PLANET :

- MARS, pukul 18.00 - 05.00 waktu setempat mag.semu (-2,0)
- JUPITER, pukul 18.00 - 01.00 waktu setempat mag.semu (-1,8)
- SATURNUS, pukul 19.00 - 05.00 waktu setempat mag.semu (1,05)